Disini Jual Ikan Segar
Seseorang mulai berjualan ikan segar di pasar.
Ia memasang papan pengumuman bertuliskan" Disini Jual Ikan Segar".
Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan
tentang tulisannya.
"Mengapa kau tuliskan kata: DISINI? Bukankah semua orang sudah tahu
kalau kau berjualan DISINI, bukan DISANA?"
"Benar juga!" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "DISINI" dan
tinggallah tulisan "JUAL IKAN SEGAR".
Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan
tulisannya.
"Mengapa kau pakai kata SEGAR? Bukankah semua orang sudah tahu
kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?
"Benar juga" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "SEGAR" dan
tinggallah tulisan "JUAL IKAN".
Sesaat kemudian datanglah pengunjung ke tiga yang juga menanyakan
tulisannya: "Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah
tahu kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan?"
Benar juga pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggallah
tulisan "IKAN".
Selang beberapa waktu kemudian, datang pengunjung ke 4, yang juga
menanyakan tulisannya: "Mengapa kau tulis kata IKAN?
Bukankah semua orang sudah tahu kalau ini Ikan bukan Daging?"
"Benar juga" pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan
pengumuman itu.
Moral :
Bila kita ingin memuaskan semua orang,
kita tidak akan mendapatkan apa-apa.
Senin, 20 April 2009
Jumat, 17 April 2009
Kisah Inspiratif (2)
Kisah pohon apel
Kisah pohon apel
Di suatu masa dahulu ada sebatang pohon apel yang amat besar. Seorang
kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel
ini setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan
apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu
terlelap di pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu
menyayangi tempat permainannya dan sepertinya pohon apel itu juga
menyukai anak tersebut.
Waktu berlalu... anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang
remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktu setiap hari bermain di
sekitar pohon apel tersebut. Namun demikian, pada suatu hari dia
datang ke pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. "Marilah
bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu." Aku bukan lagi
kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau," jawab
remaja itu." Aku mau mainan. Aku perlu uang untuk membeli mainan,"
tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu
berkata, " Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah
untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang
kau inginkan."
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi
dari situ. Dia tidak kembali lagi. Pohon apel itu merasa sedih.
Kemudian waktu terus berlalu...Suatu hari, remaja itu kembali. Dia
semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira. "Marilah nak bermain-
main di sekitarku," ajak pohon apel itu."Aku tak waktu untuk bermain.
Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membuat rumah
sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Maukah kamu menolongku
wahai pohon apel?" Tanya anak itu."
Pohon apel menjawab "Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi
kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah
dari padanya." Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong seluruh
dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon
apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena
remaja itu tidak kembali lagi.
Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel yang
sudah gundul itu . Lelaki itu sebenarnya adalah anak lelaki yang
pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan
dewasa."Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu."
Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yangsuka bermain-main
di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk
belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Maukah kau
menolongku lagi ?" kata lelaki itu."
Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepadamu. Tetapi kau boleh
memotong batang utama pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan
dapat belayar dengan gembira," kata pohon apel itu. Lelaki itu merasa
amat sedang dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudiannya pergi
dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi.
Akhirnya pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimakan usia,
datang kembali menuju pohon apel itu. "Maafkan aku. Aku tidak ada apa-
apa lagi untuk diberikan kepadamu. Aku sudah memberikan buah untuk di
jual, dahanku dan ranting untuk kau buat rumah, batang utamaku untuk
buat perahu. Aku hanya akar yang hampir mati..." kata pohon apel itu
dengan nada pilu.
"Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tidak bergigi untuk
memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana aku sudah terlalu tua untuk
memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu karena aku tidak belayar
lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tua
itu. "Jika begitu, istirahatlah di perduku," kata pohon apel itu.
Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu.
Mereka berdua menangis....
Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah
kedua ibu bapak kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain
dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan
mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka dan hanya
kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun
begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup. Anda mungkin berfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi
fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini
terhadap ibu-bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapak kita. Jangan hanya
kita menghargai mereka karena kita butuh saja, kasih orang tua tidak
pernah habis, selamanya.
kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel
ini setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan
apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu
terlelap di pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu
menyayangi tempat permainannya dan sepertinya pohon apel itu juga
menyukai anak tersebut.
Waktu berlalu... anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang
remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktu setiap hari bermain di
sekitar pohon apel tersebut. Namun demikian, pada suatu hari dia
datang ke pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. "Marilah
bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu." Aku bukan lagi
kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau," jawab
remaja itu." Aku mau mainan. Aku perlu uang untuk membeli mainan,"
tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu
berkata, " Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah
untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang
kau inginkan."
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi
dari situ. Dia tidak kembali lagi. Pohon apel itu merasa sedih.
Kemudian waktu terus berlalu...Suatu hari, remaja itu kembali. Dia
semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira. "Marilah nak bermain-
main di sekitarku," ajak pohon apel itu."Aku tak waktu untuk bermain.
Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membuat rumah
sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Maukah kamu menolongku
wahai pohon apel?" Tanya anak itu."
Pohon apel menjawab "Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi
kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah
dari padanya." Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong seluruh
dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon
apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena
remaja itu tidak kembali lagi.
Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel yang
sudah gundul itu . Lelaki itu sebenarnya adalah anak lelaki yang
pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan
dewasa."Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu."
Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yangsuka bermain-main
di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk
belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Maukah kau
menolongku lagi ?" kata lelaki itu."
Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepadamu. Tetapi kau boleh
memotong batang utama pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan
dapat belayar dengan gembira," kata pohon apel itu. Lelaki itu merasa
amat sedang dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudiannya pergi
dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi.
Akhirnya pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimakan usia,
datang kembali menuju pohon apel itu. "Maafkan aku. Aku tidak ada apa-
apa lagi untuk diberikan kepadamu. Aku sudah memberikan buah untuk di
jual, dahanku dan ranting untuk kau buat rumah, batang utamaku untuk
buat perahu. Aku hanya akar yang hampir mati..." kata pohon apel itu
dengan nada pilu.
"Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tidak bergigi untuk
memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana aku sudah terlalu tua untuk
memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu karena aku tidak belayar
lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tua
itu. "Jika begitu, istirahatlah di perduku," kata pohon apel itu.
Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu.
Mereka berdua menangis....
Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah
kedua ibu bapak kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain
dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan
mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka dan hanya
kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun
begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup. Anda mungkin berfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi
fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini
terhadap ibu-bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapak kita. Jangan hanya
kita menghargai mereka karena kita butuh saja, kasih orang tua tidak
pernah habis, selamanya.
Rabu, 15 April 2009
Kisah Inspiratif (1)
Hari ini saya ingin berbagi cerita, mudah2an menjadi inspirasi bagi kita semua. Mungkin sebagian dari kita sudah pernah membacanya, tetapi tidak ada salahnya saya sampaikan lagi disini sebagai reminder, mudah2an menjadi inspirasi bagi kita semua.
Selamat membaca.
Kisah Penjual Tempe
Ada sebuah kampung di pedalaman Tanah Jawa. Di situ ada seorang perempuan
tua yang sangat kuat beribadat. Pekerjaannya ialah membuat tempe dan
menjualnya di pasar setiap hari. Ia merupakan satu-satunya sumber
pendapatannya untuk menyara hidup. Tempe yang dijualnya merupakan tempe yang
dibuatnya sendiri.
Pada suatu pagi, seperti biasa, ketika beliau sedang bersiap-siap untuk
pergi menjual tempenya, tiba tiba dia tersedar yang tempenya yang diperbuat
daripada kacang soya hari itu masih belum menjadi, separuh jadi.
Kebiasaannya tempe beliau telah masak sebelum bertolak. Diperiksanya
beberapa bungkusan yang lain. Ternyatalah memang kesemuanya belum masak
lagi.
Perempuan tua itu berasa amat sedih sebab tempe yang masih belum menjadi
pastinya tidak akan laku dan tiadalah rezekinya pada hari itu. Dalam suasana
hatinya yang sedih, dia yang memang kuat beribadah teringat akan firman
Tuhan yang menyatakan bahawa Tuhan dapat melakukan perkara-perkara ajaib,
bahawa bagi Tuhan tiada yang mustahil. Lalu diapun mengangkat kedua
tangannya sambil berdoa , "Tuhan , aku memohon kepadaMu agar kacang soya ini
menjadi tempe. Amin"
Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Dia sangat
yakin bahawa
Tuhan pasti mengabulkan doanya. Dengan tenang perempuan tua itu
menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan hujung jarinya dan dia pun
membuka sikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang soya itu
menjadi tempe. Namun, dia termenung seketika sebab kacang tu masih tetap
kacang soya.
Namun dia tidak putus asa, sebaliknya berfikir mungkin doanya kurang jelas
didengar oleh Tuhan. Maka dia pun mengangkat kedua tangannya semula dan
berdoa lagi. "Tuhan, aku tahu
bahawa tiada yang mustahil bagiMu. Bantulah aku supaya hari ini aku dapat
menjual tempe kerana inilah mata pencarianku. Aku mohon agar jadikanlah
kacang soyaku ini kepada tempe, Amin".
Dengan penuh harapan dan debaran dia pun sekali lagi membuka sedikit
bungkusan tu. Apakah yang terjadi? Dia termangu dan hairan apabila tempenya
masih tetap begitu!!
Sementara itu hari pun semakin meninggi sudah tentu pasar sudah mula
didatangi ramai orang. Dia tetap tidak kecewa atas doanya yang belum
terkabul. Walaubagaimanapun kerana keyakinannya yg sangat tinggi dia
bercadang untuk tetap pergi ke pasar membawa barang jualannya itu. Perempuan
tua itu pun berserah pada Tuhan dan meneruskan pemergian ke pasar sambil
berdoa dengan harapan apabila sampai di pasar kesemua tempenya akan masak.
Dia berfikir mungkin keajaiban Tuhan akan terjadi semasa perjalanannya ke
pasar.
Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya untuk
berdoa. "Tuhan, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku
berjalan menuju ke
pasar, Engkau kurniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah tempe ini.
Amin". Lalu dia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan dia tetap tidak lupa
membaca doa di dalam hatinya.
Sesampai sahaja di pasar, segera dia meletakkan barang-barangnya. Hatinya
betul-betul yakin yang tempenya sekarang mesti sudah menjadi. Dengan hati yg
berdebar-debar dia pun
membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan tempe
yang ada.
Perlahan-lahan dia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya.
Apa yang terjadi? Tempenya masih belum menjadi!!
Dia pun kaget seketika lalu menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya sudah
mula merasa sedikit kecewa dan putus asa kepada Tuhan kerana doanya tidak
dikabulkan. Dia berasakan Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan padanya,
inilah satu-satunya punca rezekinya, hasil jualan tempe. Dia akhirnya cuma
duduk sahaja tanpa mempamerkan barang jualannya sebab dia berasakan bahawa
tiada orang yang akan membeli tempe yang baru separuh menjadi. Sementara itu
hari pun semakin petang dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mula
kurang.
Dia meninjau-ninjau kawan-kawan sesama penjual tempe, tempe mereka sudah
hampir habis. Dia tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan
bahawa hari ini tiada hasil jualan yang boleh dibawa pulang. Namun jauh di
sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada Tuhan, pasti Tuhan akan
menolongnya. Walaupun dia tahu bahawa pada hari itu dia tidak akan dapat
pendapatan langsung, namun dia tetap berdoa buat kali terakhir, "Tuhan,
berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang belum menjadi ini."
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan teguran seorang wanita.
"Maaf ya, saya ingin bertanya, Makcik ada tak menjual tempe yang belum
menjadi? Dari tadi saya sudah pusing keliling pasar ini untuk mencarinya
tapi masih belum berjumpa lagi."
Dia termenung dan terpinga-pinga seketika. Hatinya terkejut sebab sejak
berpuluh tahun menjual tempe, tidak pernah seorang pun pelanggannya mencari
tempe yang belum menjadi. Sebelum dia menjawab sapaan wanita di depannya
itu, cepat-cepat dia berdoa di dalam hatinya "Tuhan, saat ini aku tidak
mahu tempe ini menjadi lagi. Biarlah tempe ini seperti semula, Amin".
Sebelum dia menjawab pertanyaan wanita itu, dia membuka sedikit daun penutup
tempenya. Alangkah seronoknya dia, ternyata memang benar tempenya masih
belum menjadi! Dia pun rasa gembira dalam hatinya dan bersyukur pada Tuhan.
Wanita itu pun memborong habis kesemua tempenya yang belum menjadi itu.
Sebelum wanita tu pergi, dia sempat bertanya wanita itu, "Mengapa hendak
membeli tempe yang belum jadi?"
Wanita itu menerangkan bahawa anaknya yang kini berada di England teringin
makan tempe dari desa. Memandangkan tempe itu akan dikirimkan ke England, si
ibu tadi kenalah membeli tempe yang belum jadi lagi supaya apabila sampai di
England nanti akan menjadi tempe yang sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang
sudah menjadi, nanti di sana tempe itu sudah tidak elok lagi dan rasanya pun
kurang sedap.
Perempuan tua itu pun kehairanan dan berfikir rupa-rupanya doanya sudah pun
dimakbulkan oleh Tuhan...
Moral:
Pertama: Kita sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan sewaktu berdoa,
padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita perlukan dan apa
yang terbaik untuk diri kita.
Kedua:. Sentiasalah berdoa dalam menjalani kehidupan seharian kita sebagai
hambaNya yang lemah. Jangan sekali-kali berputus asa terhadap apa yang
dipinta. Percayalah bahawa Tuhan akan mengabulkan doa kita sesuai dengan
rancanganNya yang mungkin di luar jangkaan kita.
Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Tuhan
Selamat membaca.
Kisah Penjual Tempe
Ada sebuah kampung di pedalaman Tanah Jawa. Di situ ada seorang perempuan
tua yang sangat kuat beribadat. Pekerjaannya ialah membuat tempe dan
menjualnya di pasar setiap hari. Ia merupakan satu-satunya sumber
pendapatannya untuk menyara hidup. Tempe yang dijualnya merupakan tempe yang
dibuatnya sendiri.
Pada suatu pagi, seperti biasa, ketika beliau sedang bersiap-siap untuk
pergi menjual tempenya, tiba tiba dia tersedar yang tempenya yang diperbuat
daripada kacang soya hari itu masih belum menjadi, separuh jadi.
Kebiasaannya tempe beliau telah masak sebelum bertolak. Diperiksanya
beberapa bungkusan yang lain. Ternyatalah memang kesemuanya belum masak
lagi.
Perempuan tua itu berasa amat sedih sebab tempe yang masih belum menjadi
pastinya tidak akan laku dan tiadalah rezekinya pada hari itu. Dalam suasana
hatinya yang sedih, dia yang memang kuat beribadah teringat akan firman
Tuhan yang menyatakan bahawa Tuhan dapat melakukan perkara-perkara ajaib,
bahawa bagi Tuhan tiada yang mustahil. Lalu diapun mengangkat kedua
tangannya sambil berdoa , "Tuhan , aku memohon kepadaMu agar kacang soya ini
menjadi tempe. Amin"
Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Dia sangat
yakin bahawa
Tuhan pasti mengabulkan doanya. Dengan tenang perempuan tua itu
menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan hujung jarinya dan dia pun
membuka sikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang soya itu
menjadi tempe. Namun, dia termenung seketika sebab kacang tu masih tetap
kacang soya.
Namun dia tidak putus asa, sebaliknya berfikir mungkin doanya kurang jelas
didengar oleh Tuhan. Maka dia pun mengangkat kedua tangannya semula dan
berdoa lagi. "Tuhan, aku tahu
bahawa tiada yang mustahil bagiMu. Bantulah aku supaya hari ini aku dapat
menjual tempe kerana inilah mata pencarianku. Aku mohon agar jadikanlah
kacang soyaku ini kepada tempe, Amin".
Dengan penuh harapan dan debaran dia pun sekali lagi membuka sedikit
bungkusan tu. Apakah yang terjadi? Dia termangu dan hairan apabila tempenya
masih tetap begitu!!
Sementara itu hari pun semakin meninggi sudah tentu pasar sudah mula
didatangi ramai orang. Dia tetap tidak kecewa atas doanya yang belum
terkabul. Walaubagaimanapun kerana keyakinannya yg sangat tinggi dia
bercadang untuk tetap pergi ke pasar membawa barang jualannya itu. Perempuan
tua itu pun berserah pada Tuhan dan meneruskan pemergian ke pasar sambil
berdoa dengan harapan apabila sampai di pasar kesemua tempenya akan masak.
Dia berfikir mungkin keajaiban Tuhan akan terjadi semasa perjalanannya ke
pasar.
Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya untuk
berdoa. "Tuhan, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku
berjalan menuju ke
pasar, Engkau kurniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah tempe ini.
Amin". Lalu dia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan dia tetap tidak lupa
membaca doa di dalam hatinya.
Sesampai sahaja di pasar, segera dia meletakkan barang-barangnya. Hatinya
betul-betul yakin yang tempenya sekarang mesti sudah menjadi. Dengan hati yg
berdebar-debar dia pun
membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan tempe
yang ada.
Perlahan-lahan dia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya.
Apa yang terjadi? Tempenya masih belum menjadi!!
Dia pun kaget seketika lalu menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya sudah
mula merasa sedikit kecewa dan putus asa kepada Tuhan kerana doanya tidak
dikabulkan. Dia berasakan Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan padanya,
inilah satu-satunya punca rezekinya, hasil jualan tempe. Dia akhirnya cuma
duduk sahaja tanpa mempamerkan barang jualannya sebab dia berasakan bahawa
tiada orang yang akan membeli tempe yang baru separuh menjadi. Sementara itu
hari pun semakin petang dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mula
kurang.
Dia meninjau-ninjau kawan-kawan sesama penjual tempe, tempe mereka sudah
hampir habis. Dia tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan
bahawa hari ini tiada hasil jualan yang boleh dibawa pulang. Namun jauh di
sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada Tuhan, pasti Tuhan akan
menolongnya. Walaupun dia tahu bahawa pada hari itu dia tidak akan dapat
pendapatan langsung, namun dia tetap berdoa buat kali terakhir, "Tuhan,
berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang belum menjadi ini."
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan teguran seorang wanita.
"Maaf ya, saya ingin bertanya, Makcik ada tak menjual tempe yang belum
menjadi? Dari tadi saya sudah pusing keliling pasar ini untuk mencarinya
tapi masih belum berjumpa lagi."
Dia termenung dan terpinga-pinga seketika. Hatinya terkejut sebab sejak
berpuluh tahun menjual tempe, tidak pernah seorang pun pelanggannya mencari
tempe yang belum menjadi. Sebelum dia menjawab sapaan wanita di depannya
itu, cepat-cepat dia berdoa di dalam hatinya "Tuhan, saat ini aku tidak
mahu tempe ini menjadi lagi. Biarlah tempe ini seperti semula, Amin".
Sebelum dia menjawab pertanyaan wanita itu, dia membuka sedikit daun penutup
tempenya. Alangkah seronoknya dia, ternyata memang benar tempenya masih
belum menjadi! Dia pun rasa gembira dalam hatinya dan bersyukur pada Tuhan.
Wanita itu pun memborong habis kesemua tempenya yang belum menjadi itu.
Sebelum wanita tu pergi, dia sempat bertanya wanita itu, "Mengapa hendak
membeli tempe yang belum jadi?"
Wanita itu menerangkan bahawa anaknya yang kini berada di England teringin
makan tempe dari desa. Memandangkan tempe itu akan dikirimkan ke England, si
ibu tadi kenalah membeli tempe yang belum jadi lagi supaya apabila sampai di
England nanti akan menjadi tempe yang sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang
sudah menjadi, nanti di sana tempe itu sudah tidak elok lagi dan rasanya pun
kurang sedap.
Perempuan tua itu pun kehairanan dan berfikir rupa-rupanya doanya sudah pun
dimakbulkan oleh Tuhan...
Moral:
Pertama: Kita sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan sewaktu berdoa,
padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita perlukan dan apa
yang terbaik untuk diri kita.
Kedua:. Sentiasalah berdoa dalam menjalani kehidupan seharian kita sebagai
hambaNya yang lemah. Jangan sekali-kali berputus asa terhadap apa yang
dipinta. Percayalah bahawa Tuhan akan mengabulkan doa kita sesuai dengan
rancanganNya yang mungkin di luar jangkaan kita.
Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Tuhan
Senin, 13 April 2009
Alhamdulillah, akhirnya hari ini jadi juga ini Blog....
Meskipun tampilan masih sangat sederhana dan mungkin sdh jauh ketinggalan dari jago-jago blogger lainnya....aku tetap bersyukur, paling tidak sudah selangkah lagi maju...dan tentu saja better late than never. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat sesuatu.
Semoga dengan adanya blog ini, aku lebih terpanggil lagi untuk menuangkan apapun yang menurut aku perlu ditulis dan dishare dengan temen-temen atau siapa saja yang berkenan membuka blog ini......
Aku yakin, selama didasari niat yang baik, dilakukan degan cara yang baik, serta berisi hal-hal yang baik pula......pasti akan membawa manfaat, khususnya bagi diriku sendiri.
Aku mengundang siapa saja yang mau share disini, dengan senang hati aku menunggunya....
Aku tidak berharap yang muluk-muluk dari media ini, minimal menjalin silaturahim...rasanya sudah lebih dari cukup manfaat yang aku dapatkan.
Ini dulu yang bisa aku sampaikan sebagai pembuka dan ungkapan rasa syukur....
Salam,
Meskipun tampilan masih sangat sederhana dan mungkin sdh jauh ketinggalan dari jago-jago blogger lainnya....aku tetap bersyukur, paling tidak sudah selangkah lagi maju...dan tentu saja better late than never. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat sesuatu.
Semoga dengan adanya blog ini, aku lebih terpanggil lagi untuk menuangkan apapun yang menurut aku perlu ditulis dan dishare dengan temen-temen atau siapa saja yang berkenan membuka blog ini......
Aku yakin, selama didasari niat yang baik, dilakukan degan cara yang baik, serta berisi hal-hal yang baik pula......pasti akan membawa manfaat, khususnya bagi diriku sendiri.
Aku mengundang siapa saja yang mau share disini, dengan senang hati aku menunggunya....
Aku tidak berharap yang muluk-muluk dari media ini, minimal menjalin silaturahim...rasanya sudah lebih dari cukup manfaat yang aku dapatkan.
Ini dulu yang bisa aku sampaikan sebagai pembuka dan ungkapan rasa syukur....
Salam,
Langganan:
Postingan (Atom)